Kamis, 23 Januari 2014

Tugas 3 . Jelaskan Prosedur penyembuhan secara menyeluruh penyakit pada hewan



Penyakit Hewan | Jenis dan Macam-macam Cacing di Usus Anjing

Ada beberapa jenis cacing yang menyerang dan menginfeksi usus anjing dan biasanya muncul gejala klinis yang menciri dan menandakan bahwa anjing tersebut cacingan adalah kurus, bulu kusam, tidak energik, terkadang diare berair sampai berdarah, nafsu makan menurun dan dapat menyababkan anemia sampai penurunan kekebalan tubuh, sehingga penyakit lain mudah menyerang termasuk bisa menyebabkan kegagalan vaksinasi pada anjing. Cacing-cacing yang banyak menyerang usus anjing diantaranya adalah Cacing Ancylostomiasis (Penyakit Cacing Tambang/ Cacing Gelang), Cacing Ascaris, Cacing Cambuk (Trichuris). Berikut adalah penjelasan dari cacing-cacing yang menyerang usus anjing :


Cacing Ancylostomiasis

Cacing Ancylostomiasis (Penyakit Cacing Tambang/ Cacing Gelang), merupakan penyakit cacingan pada anjing yang sering menginfeksi anjing dewasa dan banyak menimbulkan kerugian. Hampir semua anjing dewasa mengidap penyakit ini dengan jumlah infeksi yang bervariasi serta derajat gangguan atau kerusakan organ yang bervariasi juga.

Penyakit cacing tambang umumnya bersifat kronis dan anjing dapat mati jika disertai adanya infeksi sekunder, baik oleh bakteri ataupun oleh virus. Gejala yang menciri pada anjing dari penyakit ini adalah nafsu makan turun, mata berair, lesu, pucat, bulu kusam, anemia, Jika diikuti infeksi sekunder akan terlihat mencret berlendir dan berdarah berwarna kemerahan serta dapat menyebabkan radang paru-paru pada anjing.

Cacing tambang biasanya menyerang usus halus, cacing tersebut menghisap darah dan meninggalkan jejas, kemudian menimbulkan radang pada usus halus dan menyebabkan pendarahan sehingga mengakibatkan mencret berdarah.

Cara Penularan cacing tambang ini adalah setelah telur cacing menetas, larva cacing yang infektif ini mampu menembus kulit anjing, kemudian larva tersebut mengikuti aliran darah anjing sampai ke hati dan paru-paru anjing yang terinfeksi ancylostomiasis. Dari paru-paru akan ke usus jika anjing batuk sehingga cacing itu akan tertelan masuk ke perut kemudian berdiam di usus halus, dan selanjutnya di usus anjing tersebut cacing akan menjadi dewasa.

Larva cacing juga dapat masuk ke dalam kelenjar air susu induk dan akan menularkan pada anaknya melalui susu induknya. Larva cacing ini  pun dapat pula menular melalui makanan yang tertelan anjing lewat alas kandang, tempat makanan dan minuman anjing yang tercemar cacing ancylostoma.

Gejala klinis dari anjing yang menderita ancylostomiasis adalah anjing tampak lesu diikuti dengan nafsu makan yang berkurang, mata tampak pucat dan selalu berair, anemia, kurus seperti kekurangan gizi. Yang paling menonjol adalah perut agak membesar dan lama kelamaan feses encer (mencret) berlendir sampai berdarah.

Pada anjing yang diikuti dengan infeksi sekunder yang menyerang saluran pencernaan maka terjadi radang usus, dicirikan dengan mencret berwarna coklat sampai merah dan berbau amis. Anjing menjadi sangat kurus dan dehidrasi dan kadang-kadang diikuti dengan muntah-muntah.

Bila larva berdiam diri didalam saluran pernafasan maka anjing akan mengalami radang saluran pernafasan, hidung kering dan leleran encer sampai kental berwarna hijau kekuningan, anjing juga akan merasakan nafas sesak, mata merah, batuk-batuk, anjing menjadi lemah, terbaring dan koma serta akhirnya terjadi kematian.

Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan yang efektif untuk menghindari cacing tambang atau infeksi Ancylostoma sp maka yang perlu dilakukan adalah penerapan program pemberian obat cacing yang teratur, terutama pada anjing yang dipelihara lebih dari satu ekor. Hal yang selalu diperhatikan juga adalah kebersihan kandang, tempat makanan dan tempat minuman anjing. Sedangkan untuk pengobatan maka pemberian obat cacing albendazol sangat dianjurkan, karena obat cacing ini terbukti sangat ampuh membunuh dan membasmi berbagai jenis cacing termasuk Ancylostoma sp.

Ascariasis (Penyakit Cacing Ascaris)

Penyakit ascariasis ini disebabkan oleh cacing yang termasuk dalam golongan Toxocara. Ascariasis merupakan penyakit cacingan yang biasa menyerang pada anak anjing dengan umur 1 sampai 5 bulan. Rata-rata anak anjing diseluruh dunia terserang cacing Ascaris ini. Keparahan atau derajat kerusakan organ akibat infeksi cacing ini tergantung pada besar kecilnya jumlah cacing yang menyerang dan menimbulkan gejala nyata pada anjing. Dan untuk anjing dewasa agak lebih tahan terhadap penyakit cacingan, biasanya ini dihubungkan dengan kadar eosinofil dalam darah.

Jika pada anak anjing yang mengalami atau menderita batuk-batuk, kemudian telah diobati tetapi tidak sembuh-sembuh maka perlu dicurigai terserang cacingan jenis ini, karena terdapat larva pada paru-parunya. Pada pemeriksaan mikroskopis kotoran, hampir sekitar 80% dari populasi anak anjing  mengandung telur cacing Ascaris.

Cara Penularan Ascaris biasanya melalui telur cacing yang tanpa sengaja tertelan anak anjing, hal ini disebabkan karena telur cacing telah mencemari tempat makanan dan minuman, kandang dan lain-lain sebagainya. Penularan juga dapat pula melalui induk semasa dalam masa kebuntingan, sehingga pada saat anak anjing lahir sudah tertular cacingan.

Proses penularan pertama kali melalui telur cacing yang tertelan, kemudian telur menetas dalam perut anjing. Kemudian cacing ascaris ini akan menembus dinding usus lalu masuk ke dalam saluran darah dan mengikuti aliran darah sampai ke hati anjing. Kemudian setelah sampai di hati anjing, cacing ini akan menembus hati dan berusaha mencapai paru-paru, melalui aliran darah paru-paru memecah pembuluh darah kapiler kemudian masuk sampai ke kantung udara paru-paru. Cacing ini terus melanjutkan perjalanannya ke saluran pernafasan atas mencapai kerongkongan dan akhirnya tertelan kembali masuk ke perut dan menjadi dewasa di dalam usus. Kemudian di dalam usus cacing ini berkembang biak dan juga menimbulkan gangguan pada usus.

Gejala Klinis yang ditimbulkan oleh cacing ascaris pada anak anjing adalah perut membesar meskipun tidak banyak makan, anjing terlihat kurang enak pada bagian perutnya, merengek-rengek, dan pada waktu berdiri posisi kaki belakang agak melebar untuk menahan rasa sakit pada bagian perutnya. Anjing tampak anemia, lemah, gelisah, anak anjing tidak mau menyusui induknya, bulu kusam, mata berair, nafas terengah-engah, sesak nafas, kadang-kadang diikuti dengan mencret dan muntah-muntah. Kematian anak anjing biasanya dipercepat dengan adanya infeksi sekunder sehingga terjadi radang paru-paru (pneumonia).

Apabila anak-anak anjing yang masih menyusu pada induknya, biasanya terjadi kematian satu per satu tanpa menunjukkan gejala klinis, hanya menunjukkan gejala perut agak besar dan lemas, sehingga kita harus mencurigai bahwa kematiannya disebabkan oleh cacing Ascaris ini.

Jika menyerang pada anjing dewasa, hanya menimbulkan gejala ringan yaitu pertumbuhan terhambat, bulu kusam dan berdiri, mata berair, lesu, nafsu makan turun, kemudian bila makan hanya memilih dagingnya saja, bahkan pada yang berat makanan hanya dijilat kemudian ditinggal pergi.

Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan penyakit cacingan askaris ini adalah penerapan sanitasi kandang yang baik, terutama pada anak anjing. Kotoran anak anjing jangan ditumpuk dan dibiarkan saja, namun harus segera dibuang, Kandang sebaiknya di desinfeksi seminggu sekali. Cara ini dapat sangat membantu mengurangi cacingan pada anak anjing. Pada anak anjing sebaiknya alas kandang dilapisi dengan Koran sehingga bila anak anjing buang kotoran, kotoran tersebut dapat segera dibuang dan digantikan dengan Koran yang baru.

Hal yang penting diperhatikan adalah pemberian obat cacing terutama pada anak anjing lepas sapih. Anjing dewasa yang akan dikawinkan sebaiknya diberi obat cacing dan sesudah beranak dapat diberikan ulangan obat cacing. Untuk pencegahan perlu diberikan vitamin dan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang cacingan.

Pada anak anjing dapat diberikan obat cacing albendazol mulai umur 1 bulan, kemudian diulang sebulan sekali. Anjing dewasa sebaiknya diberikan obat cacing tiap 2 bulan sekali.

Pada anak anjing ataupun anjing dewasa yang terinfeksi, perlu diperhatikan infeksi ikutan dari cacingan. Terapi didasarkan pada gejala klinis yang muncul, apabila diare diusahakan memberikan antidiare disertai terapi suportif untuk meningkatkan daya tahan dan mengembalikan kondisi tubuh, misalnya dengan pemberian vitamin atau pemberian terapi cairan (infus).

Penyakit Cacing Cambuk (Trichuris)

Penyakit cacing cambuk merupakan penyakit yang menahun atau kronis, artinya cacing ini menginfeksi dan berkembang secara perlahan-lahan, hal ini disebabkan siklus hidup cacing cambuk yang agak lama. Sekitar 10 mingguan untuk menjadi dewasa dari mulai telur cacing yang mulai menetas. Berbeda dengan cacing lain sekitar beberapa minggu saja untuk menjadi dewasa. Untuk itu upaya melakukan pengobatan dalam rangka memberantas cacing cambuk secara tuntas akan lebih sulit dibanding yang lain. Hal ini disebabkan karena obat cacing hanya mampu membunuh pada fase cacing dewasa saja, sedangkan telur tidak terbunuh. Jalan satu-satunya untuk pengobatan untuk cacing ini adalah pemberian obat cacing secara teratur dan berkala, sehingga setiap cacing cambuk ini mulai dewasa akan terbunuh dengan obat cacing tersebut, demikian seterusnya sampai cacing cambuk tersebut tidak bertelur dan berkembangbiak serta telur-telur cacing menetas semua dan akhirnya terbunuh setelah menjadi cacing trichuris/cambuk.

Usia anjing yang terserang cacing cambuk/trichuris ini adalah umur anjing yang dewasa, mungkin ini disebabkan karena siklus cacing yang lama sekitar 10 minggu. Misalnya jika anak anjing menelan telur umur 1 bulan atau 4 minggu, maka cacing akan menjadi dewasa sekitar pada saat anjing umur 18 minggu(telur menetas 1 bulan jadi :4 minggu+4 minggu+10 minggu) atau 4,5 bulan dan itu baru beberapa cacing cambuk saja, belum berkembangbiak menjadi banyak.

Cara Penularan Cacing Cambuk biasanya karena anjing menelan telur cacing trichuris. Telur-telur cacing tertelan karena telah mencemari tempat makan dan minum, alas kandang dan mungkin juga lingkungan disekitar rumah tempat bermain. Telur yang tertelan, satu bulan kemudian akan menetas dan selanjutnya akan masuk ke dalam usus halus dan akan menjadi dewasa setelah 10 minggu kemudian. Cacing cambuk tersebut akhirnya akan menetap hingga 16 bulan di usus besar dan menimbulkan gejala penyakit pada anjing.

Gejala Klinis pada anjing yang terserang cacing cambuk pada awalnya tidak nampak, ini disebabkan karena perkembangan cacing yang lambat. Yang nampak hanyalah  gangguan yang ringan-ringan saja, seperti anjing mengalami anemia, mata anjing agak pucat, anjing terlihat lemah dan lesu, dan kemudian lambat laun menjadi lebih parah dan berakibat fatal.

Pada yang sudah parah baru terlihat gejala klinisnya yaitu, adanya terjadi diare, berat badan anjing menjadi menurun dan menjadi kurus, nafsu makan menurun, anjing terlihgat pucat, anemia dan dehidrasi, kotoran berbau tidak enak dan sangat spesifik sekali.

Anjing yang terserang cacing Trichuris /cambuk tidak menyebabkan kematian, namun jika disertai infeksi sekunder maka hal tersebut bisa saja terjadi.

Gejala serangan atau tingkat keparahan dari anjing yang terinfeksi cacing cambuk ditentukan oleh jumlah cacing yang ada dalam tubuh anjing penderita, umur anjing, kondisi gizi makanan anjing serta lingkungannya.

Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan agar anjing terbebas dari cacing cambuk adalah dengan cara menjaga sanitasi/kebersihan tempat minum, makan, kandang, tempat bermain, tempat tidur dan halaman rumah sekitar. Kemudian pemberian obat cacing albendazole secara teratur dan berkala terbukti dapat mencegah anjing tertular cacing ini.

Menjaga Kesehatan anjing dengan cara memberikan makanan yang sehat dan bergizi serta kandungan vitamin yang cukup ditambah mineral yang cukup ternyata dapat memberikan daya tahan anjing terhadap serangan cacing Trichuris ini.

Pengobatan yang dianjurkan untuk pengobatan cacing cambuk ini adalah dengan obat cacing albendazole setiap 4 minggu sekali selama 14 minggu (tahap awal) dan dilanjutkan pencegahan setiap 2 bulan sekali sangat dianjurkan.

Jika diare disertai adanya infeksi sekunder oleh bakteri maka pemberian antibiotik via oral sangat dianjurkan.


Demikian seputar jenis cacing yang menyerang usus anjing termasuk pencegahan, pengobatan dan cara penularannya, semoga dapat bermanfaat.

 

Pemberian Obat Pil pada Anjing

 

 

 

Pemberian obat Sirup

 

 




 Nama Kelompok 1
Ayu Gustina
Desy Mayang Sary
Fitri Dwizay Dayanti
Wenni Miranti

XI IPA 2


 

 



 

Kamis, 21 November 2013

Kamis, 31 Oktober 2013

kultur jaringan pada anggrek

Kultur Jaringan pada Anggrek

   Anggrek merupakan salah satu tanaman hias yang sering di budidayakan untuk dinikmati keindahan dan kecantikan bunganya. Semakin berkembangnya teknologi, maka semakin banyak pula jenis dan spesies anggrek yang baru sebab banyak ahli yang berusaha mempersilangkan antara anggrek satu dengan anggrek yang lainnya sehingga dihasilkan tanaman anggrek spesies jenis baru. Terdapat berbagai jenis tanaman anggrek dengan karakteristik-karakteristik keunikan yang dapat memikat indera penglihatan kita. Tak heran jika banyak orang menjadi penggemar anggrek.



 Pembudidayaan tanaman anggrek cukup gampang-gampang susah. Teknik pengembangbiakan anggrek menggunakan teknik kultur jaringan. Kultur jaringan adalah salah satu contoh perkembangbiakan vegetatif. Kultur jaringan merupakan salah satu teknik pemanfaatan totipotensi. Totipotensi merupakan kemampuan suatu sel pada setiap organ untuk berpotensi tumbuh dan berkembang menjadi individu baru . Kultur jaringan ialah teknik perbanyakan tanaman melalui pengisolasian sel bagian tanaman (daun, akar, batang, maupun mata tunas) untuk ditumbuhkan disuatu media buatan  yang telah diberi nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam suatu tempat (botol) tertutup yang tembus cahaya.  Jadi, prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.




Kultur jaringan pada anggrek biasanya dengan mengambil bagian daun atau akar anggrek, yang kemudian di tanam pada botol tertutup yang berisi media tanam berupa agar yang telah diberi berbagai nitrisi hormon pertumbuhan dan perkembangan.
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah Pembuatan media, Inisiasi (pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan), Sterilisasi, Multiplikasi (kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media), Pengakaran, dan kemudian mengeluarkan calon tanaman dari tempat sterilisasi tersebut.  Pengeluaran ini harus dilakukan dengan hati-hati dan harus segera di tempatkan ditempat yang aman sebab individu baru ini (bibit) masih sangat rentan terhadap hama dan penyakit tanaman. Setelah dirasa bibit baru telah mampu untuk beradaptasi dengan lingkungannya, maka bibit tersebut sudah dapat dipindahkan ke tempat luar atau bersinggungan langsung dengan udara luar.


 sumber : http://niviavia.wordpress.com/2013/04/23/kultur-jaringan-pada-anggrek/

Jaringan Maristem dan Gambarnya








    Jaringan Meristem adalah jaringan yang sel-selnya mampu membelah diri dengan cara mitosis secara terus menerus (bersifat embrional) untuk menambah jumlah sel-sel tubuh pada tumbuhan. Meristem terdapat pada bagian-bagian tertentu saja pada tumbuh.


Jaringan meristem dapat dibagi 2 macam
1. Jaringan Meristem Primer

    Jaringan meristem yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari pertumbuhan embrio. Contoh: ujung batang, ujung akar. Meristem yang terdapat di ujung batang dan ujung akar disebut meristem apikal. Kegiatan jaringan meristem primer menimbulkan batang dan akar bertambang panjang. Pertumbuhan jaringan meristem primer disebut pertumbuhan primer.

contoh jaringan maristem pada akar


2. Jaringan Meristem Sekunder

    Jaringan meristem sekunder adalah jaringan meristem yang berasal dari jaringan dewasa yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan jaringan meristem sekunder disebut pertumbuhan sekunder. Kegiatan jaringan meristem menimbulkan pertambahan besar tubuh tumbuhan. Contoh jaringan meristem skunder yaitu kambium. Kambium adalah lapisan sel-sel tumbuhan yang aktif membelah dan terdapat diantara xilem dan floem. Aktivitas kambium menyebabkan pertumbuhan skunder, sehingga batang tumbuhan menjadi besar. Ini terjadi pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka).
Pertumbuhan kambium kearah luar akan membentuk kulit batang, sedangkan kearah dalam akan membentuk kayu.Pada masa pertumbuhan, pertumbuhan kambium kearah dalam lebih aktif dibandingkan pertumbuhan kambium kearah luar, sehingga menyebabkan kulit batang lebih tipis dibandingkan kayu. Berdasarkan letaknya jaringan meristem dibedakan menjadi tiga yaitu meristem apikal, meristem interkalar dan meristem lateral.

Berdasarkan letaknya, meristem dibedakan atas :


a. Meristem apikal (meristem ujung)

    Meristem apikal (meristem ujung)terdapat pada ujung-ujung pokok batang dan cabang, serta ujung akar. Meristem apikal selalu menghasilkan sel-sel untuk tumbuh memanjang.Pertumbuhan memanjang akibat aktivitas meristem apikal disebut pertumbuhan primer. Jaringan yang terbentuk dari meristem apikal disebut jaringan primer.


b. Meristem interkalar/aksilar (meristem antara)

    Meristem interkalar/aksilar (meristem antara) terdapat di antara jaringan dewasa, misalnya pada pangkal ruas batang. atau meristem antara adalah meristem yang terletak diantara jaringan meristem primer dan jaringan dewasa. Contoh tumbuhan yang memiliki meristem interkalar adalah batang rumput-rumputan (Graminae). Pertumbuhan sel meristem interkalar menyebabkan pemanjangan batang lebih cepat, sebelum tumbuhnya bunga.


c. Meristem lateral (meristem samping)

     Meristem lateral (meristem samping) merupakan meristem yang menyebabkan pertumbuhan skunder. Pertumbuhan skunder adalah proses pertumbuhan yang menyebabkan bertambah besarnya akar dan batang tumbuhan. Meristem lateral disebut juga sebagai kambium. Kambium terbentuk dari dalam jaringan meristem yang telah ada pada akar dan batang dan membentuk jaringan skunder pada bidang yang sejajar dengan akar dan batang. Meristem lateral terletak sejajar dengan permukaan organ, misalnya kambium dan kambium gabus

      Pada umumnya, sel-sel penyusun jaringan meristem berdinding tipis, isodiametris, dan relative kaya akan protoplasma. Vakuola sel meristem sangat kecil dan tersebar di seluruh protoplasma. Jaringan ini terdiri atas sel-sel yang belum terdiferensiasi. Kemampuan jaringan meristem untuk bermitosis secara terus-menerus menyebabkan tumbuhan dapat bertambah tinggi dan besar. Berdasarkan asal terbentuknya, jaringan meristem digolongkan menjadi dua yaitu meristem primer dan meristem sekunder. Meristem primer berasal dari jaringan embrional (embrio/lembaga) yang membelah secara mitosis dan menghasilkan pertumbuhan primer pada tumbuhan sehingga menyebabkan tumbuhan dapat bertambah tinggi. Meristem primer biasanya terdapat pada ujung (pucuk) batang dan ujung akar. Meristem sekunder berasal dari jaringan dewasa yang sel-selnya telah berkembang lebih lanjut (terdiferensiasi), biasanya pada tumbuhan dikotil. Dari jaringan meristem sekunder akan menghasilkan pertumbuhan sekunder yang menyebabkan batang menjadi bertambah besat misalnya aktivitas kambium pada batang tumbuhan clikotil akan menghasilkan pembuluh kayu (xilem) ke bagian dalam dan pembuluh tapis (floem) ke bagian luar. Selain itu, terdapat kambium gabus (felogen) yang juga merupakan bagian dari pertumbuhan sekunder yang disebut periderm.golongkan menjadi dua

Kambium gabus terdiri atas tiga bagian yaitu:

1) felem, yaitu jaringan gabus itu sendiri yang tersusun atas sel - sel mati
2) felogen, yaitu bagian kambium gabus yang mengarah ke luar membentuk felem.
3) feloderm, yaitu bagian vang dibentuk felogen kearah dalam dan merupakan jaringan yang sifatnva serupa parenkim dan terdiri atas sel-sel hidup.



sumber : http://forum.kompas.com/sains/230672-jaringan-meristem-jaringan-embrional.html